Jakarta kini terasa lebih dekat dengan Pegunungan Alpen. Melalui pameran Travel Switzerland Exhibition yang digelar di Whoosh Halim Station, masyarakat diajak merasakan pengalaman menjelajahi Swiss—tanpa harus meninggalkan kota.
Pameran yang berlangsung hingga 24 Mei 2026 ini menjadi perayaan dua momen penting: 10 tahun Grand Train Tour of Switzerland dan 75 tahun hubungan diplomatik antara Indonesia dan Swiss. Namun lebih dari itu, pameran ini menghadirkan sebuah gagasan sederhana namun kuat: bahwa perjalanan bisa menjadi pengalaman yang mengubah cara kita melihat dunia.
Platform Kolaborasi Lintas Negara.
Duta Besar Swiss untuk Indonesia, Timor-Leste, dan ASEAN, H.E. Olivier Zehnder mengatakan bahwa di Swiss, kereta api bukan sekadar sarana transportasi, melainkan juga cara terbaik untuk menikmati keindahan negara tersebut. “Penyelenggaraan pameran di Stasiun Whoosh Halim menjadi simbol pertemuan dua negara yang sama-sama memahami peran penting mobilitas dalam menghubungkan masyarakat dan membuka peluang baru,” ujarnya.
Sementara, Presiden Direktur KCIC, Dwiyana Slamet Riyadi, menyatakan bahwa kolaborasi ini menjadi momentum penting bagi Whoosh untuk memperluas eksposur internasional sekaligus memperkuat posisinya sebagai layanan transportasi kelas dunia. Kehadiran pameran ini juga menunjukkan peran Whoosh tidak hanya sebagai solusi mobilitas, tetapi juga sebagai platform kolaborasi lintas negara.
Perjalanan Nuansa Beda Sesuai Musim
Salah satu daya tarik utama perjalanan kereta di Swiss adalah bagaimana pengalaman tersebut berubah mengikuti musim. Tidak ada satu “waktu terbaik” yang mutlak—semuanya bergantung pada suasana seperti apa yang ingin dinikmati.
Director Southeast Asia Switzerland Tourism, Batiste Pilet, mengatakan bahwa Grand Train Tour of Switzerland menawarkan cara unik untuk menjelajahi keberagaman Swiss, mulai dari lanskap pegunungan hingga kota-kota bersejarah.

Ia melanjutkan, “Ambil contoh Glacier Express. Di musim dingin, kereta ini membawa penumpang melintasi lanskap putih yang tenang: pegunungan tertutup salju, desa-desa sunyi, dan aktivitas ski di kejauhan. Sebaliknya, di musim panas, rute yang sama berubah menjadi hamparan hijau padang rumput, sapi yang merumput, hingga petani yang bekerja di ladang.”
Menariknya, layanan kereta di Swiss tetap beroperasi hampir sepanjang tahun. Hanya ada jeda singkat, biasanya satu hingga dua minggu di bulan November, untuk perawatan jalur. Bahkan dari sisi harga, tarif perjalanan tidak berubah antar musim—memberikan fleksibilitas bagi wisatawan untuk memilih pengalaman sesuai preferensi mereka.
Dari Wisata Grup hingga Petualangan Personal
Tren wisatawan juga menunjukkan pola yang menarik. Banyak wisatawan grup—termasuk dari Indonesia—umumnya memilih mencoba satu atau dua rute kereta ikonik saja. Sementara itu, mereka yang ingin menjelajah lebih dalam biasanya adalah wisatawan individu, yang merancang perjalanan sendiri dengan kombinasi kereta, bus, dan kapal dalam satu sistem transportasi yang terintegrasi.
Pendekatan ini menjadikan Swiss bukan sekadar destinasi, melainkan jaringan pengalaman yang saling terhubung. Bagi Olivier pengalaman naik kereta di negaranya selalu meninggalkan kesan mendalam. Ia mengenang perjalanan ke Pontresina—sebuah kawasan indah di Swiss—di mana hamparan hijau musim panas berpadu dengan puncak gunung yang masih bersalju. Dalam kesempatan lain, ia juga sempat menaiki kereta terpanjang di dunia yang memecahkan rekor, melintasi lembah, terowongan, sungai, dan jembatan.
Namun salah satu rute yang paling ia rekomendasikan adalah perjalanan dari Bern menuju Lausanne. Setelah melewati terowongan panjang, pemandangan tiba-tiba terbuka ke arah Danau Geneva (Lac Léman) dan kawasan Lavaux yang terkenal dengan kebun anggurnya. Rute ini menjadi contoh bagaimana perjalanan kereta di Swiss mampu menghadirkan kejutan visual yang tak terlupakan dalam setiap lintasannya. (ES | Foto: Dok. Istimewa)





