Kolaborasi Lintas Sektor Tingkatkan Pencegahan Cacar Api ke Tindakan Preventif Nyata

 

Memperingati World Immunization Week (24–30 April) dan pelaksanaan kampanye global Shingles Action Week, risiko penyakit cacar api menjadi perhatian, khususnya pada kelompok usia lanjut dan individu dengan penyakit kronis di Indonesia. Merespons hal ini, Kementerian Kesehatan  Republik Indonesia bersama Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia, Yayasan Jantung Indonesia, dan GSK Indonesia mendorong penguatan pencegahan cacar api melalui pendekatan lintas sektor, seiring dengan pergeseran fokus kampanye ke arah tindakan preventif yang nyata.

 

Mengusung slogan “Cegah Cacar Api Tanpa Tapi” yang menekankan pentingnya melakukan langkah pencegahan tanpa penundaan maupun keraguan, kampanye ini menempatkan pencegahan sebagai prioritas utama, khususnya bagi orang dewasa berusia 50 tahun ke atas dan individu dengan penyakit kronis.

 

Cacar api tidak hanya ditandai dengan nyeri hebat, tetapi juga berisiko menimbulkan komplikasi  jangka panjang, seperti neuralgia pascaherpetik, yang dapat berdampak pada kualitas hidup, produktivitas, serta meningkatkan beban sistem kesehatan.

 

Menjawab kebutuhan tersebut, Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia dan GSK Indonesia akan meresmikan kolaborasi untuk menghadirkan inisiatif preventif bagi pasien kardiovaskular melalui HeartShield. Inisiatif ini bertujuan meningkatkan kesadaran dan mendorong langkah pencegahan, mengingat pasien dengan penyakit jantung memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap infeksi dan komplikasi.

 

 

Upaya ini dilakukan melalui sejumlah pendekatan, antara lain: edukasi pasien melalui platform digital seperti website kenalicacarapi.com yang menyediakan informasi komprehensif, kisah pasien, serta fitur penilaian risiko mandiri cekrisikocacarapi.com; pemanfaatan chatbot KECAPI berbasis WhatsApp yang memberikan informasi tepercaya untuk membantu masyarakat memahami cacar api dan menghindari misinformasi; serta kampanye “Ayo Kita Vaksin” (@ayokitavaksin) di media sosial. Inisiatif ini juga didukung oleh penguatan kapasitas tenaga medis melalui pelatihan dan integrasi vaksinasi dalam praktik klinis sehari-hari.

 

“Kami menekankan bahwa pencegahan merupakan langkah krusial untuk melindungi kesehatan masyarakat sekaligus menjaga produktivitas nasional. Imunisasi dewasa bukan lagi pilihan tambahan, melainkan kebutuhan kesehatan masyarakat yang penting untuk mengurangi beban penyakit, angka rawat inap, serta dampak ekonomi,” ujar dr. Siti Nadia Tarmizi, M. Epid, Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, seraya menegaskan pentingnya implementasi strategi pencegahan berbasis bukti di seluruh tahap kehidupan.

 

Dr. Ade Meidian Ambari, Sp. JP(K), PhD, Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PP PERKI) menyampaikan “Pencegahan cacar api sama pentingnya dengan menjaga kesehatan jantung. Pasien dengan penyakit jantung perlu mendapatkan edukasi agar terhindar dari risiko infeksi yang dapat memperburuk kondisi jantung, mengingat kondisi jantung yang sudah melemah dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi, termasuk cacar api. Meskipun jarang terjadi, cacar api juga dapat berkaitan dengan komplikasi vaskular seperti stroke dan serangan jantung, namun risiko absolutnya tetap rendah dan hanya terjadi pada sebagian kecil pasien, sehingga penting untuk dipahami secara proporsional. Oleh karena itu, pencegahan dan edukasi sejak dini menjadi langkah penting untuk melindungi kesehatan jantung sekaligus meminimalkan risiko komplikasi.

 

Komunikasi yang jelas dan penuh empati kepada pasien dan keluarga itu sangat penting. Edukasi yang mudah diakses menjadi kunci agar masyarakat paham risikonya dan bisa mengambil keputusan yang tepat.  Mari jaga jantung, jaga daya tahan tubuh, dan jangan ragu bertanya pada dokter. Karena melindungi diri dari penyakit yang bisa dicegah adalah bentuk cinta sejati kepada keluarga”, ujar Ketua Bidang Komunikasi Yayasan Jantung Indonesia, Iwet Ramadhan. (ES | Foto: Dok. GSK Indonesia)