Program Generasi Sehat Bebas Stunting Darya-Varia Sukses Turunkan Angka Stunting di Desa Cibatok II

 

Memulai dengan program edukasi pada 2018, PT Darya-Varia Laboratoria Tbk (Darya-Varia) berhasil mencatatkan penurunan penderita stunting di Desa Cibatok II, Bogor, Jawa Barat, hingga 80%. Pencapaian ini dipaparkan dalam konferensi pers bertajuk ‘Generasi Sehat Bebas Stunting’ pada Selasa (6/2/2024).

 

Bermitra dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia di bawah kerangka program Peningkatan Upaya Promotif dan Preventif dalam Rangka Mewujudkan Indonesia Sehat, Darya-Varia berkomitmen selalu mendukung program prioritas tersebut.

 

Pada awal program tahun 2018, terdapat 68 anak yang mengalami stunting. Melalui berbagai program pencegahan dan edukasi, angka ini terus menurun dan pada tahun 2023 angka tersebut berhasil ditekan dengan hanya 13 anak.

 

BACA JUGA:

Kolaborasi Royco, BKKBN dan LAZISNU Perkuat Edukasi Makanan Bergizi Cegah Stunting

Brawijaya Hospital Saharjo Bersama PT Prodia Widyahusada Tbk Resmikan Brawijaya Genomic Center

 

dr. Ian Kloer, Presiden Direktur PT Darya-Varia Laboratoria Tbk, dalam sambutannya mengatakan, “Darya-Varia sebagai perusahaan farmasi yang bergerak di bidang kesehatan memiliki tanggung jawab moral untuk berkontribusi dalam implementasi program-program prioritas Pemerintah Indonesia di sektor kesehatan, termasuk program pengentasan stunting.”

 

Program-program yang dijalankan setiap tahunnya, antara lain edukasi kesehatan secara umum kepada kader Duta Sehat, Pelatihan Peningkatan Kompetensi Bidan, Pemberdayaan Posyandu melalui pengadaan bahan makanan sehat dan peralatan kesehatan, pengecekan kesehatan gratis.

 

Selain itu, program CSR ini juga mendukung pembangunan infrastruktur kesehatan, seperti pembangunan Unit Kesehatan Sekolah, edukasi perilaku hidup sehat dan budaya cuci tangan di beberapa SD sekitar, edukasi tentang pemenuhan gizi pada anak.

 

 

Tak ketinggalan edukasi keterampilan orangtua mengasuh anak (parenting), dan edukasi seks dan kesehatan reproduksi dengan target siswa/i SMP untuk menekan angka pernikahan usia remaja. Menurut dr. Boy Abidin Sp.OG (K), dokter spesialis kandungan dan kebidanan, pernikahan dini dapat menjadi salah satu pemicu timbulnya stunting.

 

“Pernikahan dini pada remaja dapat meningkatkan risiko, seperti komplikasi kehamilan dan persalinan, kematian ibu dan bayi, infeksi menular seksual, kekerasan dalam rumah tangga, kemiskinan, dan stunting pada anak,” ungkap dr. Boy Abidin.

 

Pada kesempatan yang sama, Enjang Hariri, S.Ip, Sekretaris Desa Cibatok II juga berbagi cerita. “Program ini menjadi berbeda, karena kegiatan-kegiatan intervensi yang dilakukan lebih dari sekadar pemberian suplemen gizi dan nutrisi, namun sudah menargetkan hal-hal yang sifatnya pencegahan di hulu seperti penyuluhan kesehatan ibu dan anak, perbaikan sanitasi lingkungan, pemberdayaan keluarga, dan terutama edukasi dini pada remaja,” tuturnya.

 

 

Salah seorang kader Posyandu, Ningsih Mintarsih menyampaikan apresiasi terhadap Program Generasi Sehat yang sangat membantu penduduk untuk memenuhi kebutuhan gizi yang baik, seperti dengan memberikan suplemen, makanan bergizi, dan konsultasi kesehatan.

 

“Kami berharap program ini terus dilanjutkan tahun-tahun berikutnya untuk memberikan dampak positif bagi keluarga dan generasi mendatang, sehingga apa yang telah dicapai oleh program ini dapat berpengaruh pada prestasi dan potensi anak-anak,” tutup Ningsih.