Di tengah tekanan perubahan iklim dan kompleksitas kota yang kian meningkat, arsitektur tidak lagi cukup dipahami sebagai urusan bentuk dan estetika. Ia dituntut hadir sebagai solusi yang melibatkan banyak disiplin. Gagasan ini menjadi benang merah dalam ARCH:ID 2026 International Conference yang kembali digelar oleh Ikatan Arsitek Indonesia bersama PT CIS Exhibition.
Mengusung tema “Skema Sintesa – Arsitektur Keterlibatan”, ARCH:ID tahun ini melihat arsitektur sebagai ekologi kolaboratif—ruang pertemuan berbagai pengetahuan yang saling terhubung untuk menghasilkan lingkungan binaan yang lebih adaptif dan berkelanjutan.
Menurut Alvar Mensana dari tim konferensi, tantangan yang dihadapi arsitektur saat ini sudah jauh berkembang. Tidak lagi berhenti pada desain bangunan, tetapi juga menyangkut isu iklim, dinamika sosial, hingga perkembangan industri kreatif.
Melalui rangkaian Architecture Forum dan Urban Forum, ARCH:ID 2026 berupaya membuka ruang dialog yang lebih luas. Forum ini dirancang agar para profesional, akademisi, hingga mahasiswa bisa melihat persoalan secara utuh, sekaligus membangun jejaring lintas sektor yang relevan dengan kebutuhan kota masa depan.

Salah satu yang menonjol tahun ini adalah kehadiran para pembicara perempuan yang berpengaruh di bidangnya. Nama-nama seperti Marina Tabassum, Manuelle Gautrand, hingga Irene Umar akan berbagi perspektif, menunjukkan peran penting perempuan dalam membentuk arah arsitektur dan kebijakan perkotaan.
Bagi arsitek anggota IAI, konferensi ini juga memiliki nilai praktis. Partisipasi dalam forum internasional seperti ini dapat dikonversi menjadi KUM Point, yang menjadi bagian dari pengembangan profesional berkelanjutan. Di sisi lain, ajang ini membuka peluang bertemu berbagai pemangku kepentingan, dari perancang hingga pelaku industri konstruksi.
ARCH:ID 2026 dijadwalkan berlangsung pada 23–24 April 2026 di ICE BSD City. Forum ini diharapkan tidak hanya menjadi ruang diskusi, tetapi juga titik temu gagasan yang bisa diterjemahkan menjadi solusi nyata bagi masa depan kota-kota di Indonesia.
Lewat pendekatan kolaboratif yang diusung, ARCH:ID ingin menegaskan satu hal sederhana: membangun kota bukan hanya tugas arsitek, tapi hasil kerja bersama banyak pihak yang saling terhubung.




