Cuaca tropis di Indonesia sering kali membawa tantangan tersendiri bagi kesehatan kulit. Tingginya kelembapan udara membuat tubuh lebih mudah berkeringat yang pada akhirnya memicu berbagai masalah mulai dari gatal-gatal, kemerahan, hingga bruntusan. Keluhan semacam ini rupanya sangat akrab di telinga para pengguna hijab yang dituntut berpakaian tertutup sepanjang hari.
Sebagian besar perempuan merasa sudah sangat menjaga kebersihan tubuh dan rutin mengganti pakaian. Namun, masalah kulit di area yang tertutup kain tetap saja muncul. Usut punya usut, ada satu faktor harian yang sering terabaikan dan menjadi biang keladi iritasi, yakni pemilihan detergen pencuci pakaian. Bahan kimia keras yang tertinggal pada serat kain dapat bergesekan langsung dengan kulit dan memicu reaksi alergi.
Kondisi tersebut turut menjadi perhatian dokter sekaligus pemengaruh kesehatan, dr. Tirta. Dokter sekaligus influencer kesehatan itu menjelaskan bahwa bruntusan sangat mungkin timbul akibat pakaian yang dicuci menggunakan detergen berbahan keras. Reaksi alergi ini rentan menyerang mereka yang memiliki kulit sensitif.
"Bruntusan, bisa timbul karena penggunaan detergen yang tak cocok. Sehingga, bruntusan yaitu kemerahan dan gatal-gatal. Ini, biasanya terjadi karena sensitif pada detergen yang mengandung SLS dan Paraben," ujar dr. Tirta dikutip dari Media Sosialnya.
Ia menyarankan cara praktis untuk mengecek tingkat keamanan produk cucian. Caranya cukup dengan memasukkan tangan ke dalam air campuran detergen. Jika tangan terasa gatal atau panas, hal itu menandakan kulit merespons bahan kimia berlebih dan individu tersebut butuh produk cucian yang lebih lembut.
Sebagai duta merek Detergen Sayang Hijab, dr. Tirta mengaku selalu mencuci jersei olahraganya sendiri. Ia secara ketat menghindari jasa penatu agar koleksi jersei mahalnya tidak rusak atau berserabut. Rutin berlari membuat pakaiannya basah oleh keringat, sehingga produk tanpa kandungan paraben dan SLS menjadi andalan utamanya untuk mencegah iritasi.
Dr. Tirta juga mengingatkan para pelari untuk merawat jersei dengan baik agar terhindar dari bau apek yang bisa mengganggu orang sekitar saat berolahraga bersama.
Pengalaman iritasi serupa turut dialami oleh kreator konten Ria Ricis. Pada masa awal memutuskan berhijab, Ricis mengaku sempat mengalami masalah kulit parah di area wajah dan leher, padahal ia sudah mencuci seluruh pakaiannya hingga bersih.
"Ternyata pemilihan detergen ini sangat berpengaruh," kata Ricis membagikan pengalamannya.
Setelah beralih ke produk tanpa SLS dan Paraben, ia merasa masalah kulitnya mereda secara signifikan. Saat hadir menjadi pembicara dalam acara bincang-bincang Pop Mama Event, Ricis mengingatkan para ibu untuk ekstra teliti memilih produk perawatan rumah tangga demi kesehatan seluruh anggota keluarga.
"Cari produk yang aman saat membersamai anak-anak, salah satunya pakai detergen yang bebas SLS dan Paraben agar aman untuk kulit," ucapnya.

Merespons tingginya keresahan para perempuan, Brand Manager Deterjen Sayang, Brigitta D. Pricillia, menegaskan komitmen pihaknya dalam mengedukasi masyarakat. Brigitta menjelaskan bahwa upaya edukasi ini sebenarnya sudah konsisten berjalan sejak tahun 2025. Melalui format bincang-bincang santai, kampanye mengenai pentingnya sabun cuci yang ramah kulit ini secara khusus didedikasikan untuk merangkul seluruh perempuan.
Menurut Brigitta, edukasi ini dirancang khusus bagi perempuan berhijab agar terhindar dari jerawat dan gatal di area tubuh yang tertutup. Sayang Hijab menurutnya akan terus berkomitmen untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan kulit dengan memilih deterjen yang benar dan aman. Sayang Hijab, hadir di berbagai kegiatan seperti Muhasabah Cinta, Grebek Pasar, dan Pop Mama Event untuk menyebarkan awareness tentang pentingnya menjaga kebersihan pakaian dan pentingnya memilih deterjen yang aman di kulit ini.
"Kami menghadirkan Ria Ricis sebagai figur ibu yang berdaya untuk berbagi pengalaman, dengan harapan bisa menginspirasi banyak orang," ujar Brigitta.
Sebagai panduan tambahan, konsumen bisa menerapkan tiga langkah utama dalam memilih detergen yang ramah di kulit. Langkah pertama, pilih detergen yang terasa sejuk dan tidak menimbulkan sensasi panas di tangan. Langkah kedua, pastikan produk memiliki teknologi busa salju untuk membersihkan noda sekaligus menjaga keharuman tahan lama tanpa merusak serat kain. Langkah terakhir dan paling esensial, pastikan produk cucian tersebut benar-benar bebas dari kandungan SLS maupun Paraben.
"Kami berharap publik semakin paham bahwa rutinitas menjaga kebersihan merupakan bentuk kepedulian dan rasa sayang. Karena itu, memastikan sabun cuci yang digunakan benar-benar bersahabat untuk kulit sensitif adalah sebuah keharusan demi kesehatan bersama," tegasnya. (Foto: Dok. Deterjen Sayang)





