Luncurkan 'My Healing Journey', Mella Noviani Beri Inspirasi Perempuan untuk Bangkit

 

Banyak perempuan memendam pergumulan batin yang tertutup rapat oleh ekspektasi sosial tentang keharmonisan keluarga. Perhelatan Women of Inspiration Life Journey di Kalimaya Resto, Senin (8/6) hadir membawa pencerahan. Mella Noviani meluncurkan karya perdananya, My Healing Journey, mentransformasikan kepedihan menjadi lentera penuntun sesama.

 

Buku ini bukanlah sekadar autobiografi biasa, melainkan peta jalan terstruktur di bawah naungan gerakan Mindset Perempuan Indonesia. Mella berupaya keras mendobrak stigma dan menghadirkan pendampingan bagi perempuan yang terjebak dalam siklus konflik rumah tangga. Ia menyadari sepenuhnya banyak perempuan di luar sana terpaksa bertahan dalam ilusi kebahagiaan demi sekadar memenuhi tuntutan masyarakat yang selalu mendambakan kesempurnaan.

 

"Buku ini bukan hanya tentang saya, tapi tentang banyak perempuan yang patah, terluka, dan memilih bangkit," tegas Mella.

 

Dalam sesi berbaginya yang penuh emosi, ia secara terbuka menceritakan realitas pahit setelah menikah. Ia justru mendapatkan perlakuan kekerasan di dalam rumah tangganya sendiri. Pengalaman kelam dan penuh tekanan tersebut pada akhirnya memaksa dirinya harus kuat berjuang sebagai ibu tunggal selama kurang lebih dua puluh tahun lamanya bagi anak-anaknya.

 

Saat berada di titik terendah tersebut, ia sempat berusaha keras mencari ruang aman ataupun kelompok dukungan sesama perempuan untuk bercerita dan memulihkan diri. Sayangnya, ia tidak menemukan wadah yang tepat dan justru sering kali mendapatkan penghakiman sepihak dari lingkungan sekitarnya saat mencoba untuk berani bersuara secara jujur.

 

Pengalaman personal penuh luka dan minimnya dukungan sosial inilah yang menjadi titik balik sekaligus pendorong utama menulis buku My Healing Journey serta mendirikan gerakan Mindset Perempuan Indonesia. Ia ingin memastikan perempuan lain yang mengalami nasib serupa memiliki ruang aman untuk bercerita tanpa takut dihakimi oleh pihak mana pun.

 

"Di hadapan orang lain saya tampak baik-baik saja. Namun saat sendirian, saya menangis, terluka, dan merasa sangat terpuruk," kenang Mella. Pengalaman itu menjadi titik balik yang membuatnya menyadari pentingnya memutus rantai trauma dari masa lalu.

 
Ia kini berupaya mendobrak stigma dan menghadirkan pendampingan bagi mereka yang terjebak dalam siklus konflik domestik.

 

Mella memandang setiap luka sebagai bagian proses pembentukan diri. Baginya, rasa sakit tidak hadir untuk menghancurkan, melainkan menempa ketangguhan. Ia mengibaratkan perjalanan ini seperti kepompong yang melewati fase panjang sebelum menjadi kupu-kupu. Melalui proses itulah lahir kekuatan, harapan, dan keberanian untuk melangkah ke depan menjadi pribadi berdaya.

 

 

"Kuat itu bukan bertahan, tapi bagaimana kita memulihkan luka emosional atau masa lalu," tegasnya. Resonansi penyembuhan ini turut membasuh batin Ayu Dyah Andari. Kehilangan suami tercinta meninggalkan ruang hampa, namun kisah Mella menjadi teman sunyi yang menguatkan Ayu untuk memeluk duka secara utuh sebagai proses pemulihan.

 

Sally Giovanny, pemilik BT Batik Trusmi, turut membagikan pengalaman serupa saat melewati fase energi yang terkuras. "Pertama kali baca bukunya, saya langsung merasa aku lagi butuh itu. Allah kirimkan orang-orang yang menyayangi saya," tuturnya haru. Dukungan spiritual dan lingkaran positif terbukti menjadi fondasi kokoh saat melewati masa redup.

 

Puteri Indonesia Intelegensia Kedua, Athalla Hartiana Putri, menyebut bahaya membandingkan pencapaian diri yang memicu tekanan batin. "Kedamaian batin sejati dimulai saat kita berhenti mengukur kebahagiaan menggunakan standar hidup orang lain," ungkapnya. Athalla mengingatkan pentingnya batasan emosional sehat agar perempuan tetap fokus merayakan langkah kecil mereka sendiri.

 

Demi ruang aman nyata, Mella menggagas kelompok dukungan dengan prosedur kerahasiaan ketat. Peserta wajib menyepakati surat pernyataan agar bebas bercerita tanpa penghakiman. Komitmen ini diperkuat studi doktoral hukum kekerasan domestik yang ia jalani. Mella ingin menghadirkan perlindungan holistik bagi para penyintas guna memutus siklus trauma.

 

Langkah preventif juga dilakukan melalui pembangunan perpustakaan edukasi bagi anak dan remaja. Mella mengajak publik berdonasi buku demi memperkaya literatur kecerdasan emosional generasi muda. Acara ditutup dengan gelaran Trunk Show Wastra Indonesia yang menawan. Semangat ini diharapkan menjangkau lebih banyak perempuan agar mereka berani pulih dan menjalani hidup.

 

(Foto: Istimewa)