Di era digital yang serba cepat seperti sekarang, teknologi Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) memang membuat hidup makin praktis. Namun di balik segala kemudahannya, ancaman siber seperti hoaks, deepfake (rekayasa video), hingga penipuan finansial digital makin canggih mengintai keseharian kita. Tidak main-main, kaum ibu kerap jadi salah satu sasaran empuknya.
Melihat fenomena ini, platform investasi aset kripto PT Pintu Kemana Saja (PINTU) berkolaborasi dengan Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina turun tangan lewat program edukasi seru bertajuk “Cek Sebelum Cekcok”.
Digelar di Trimedia Green Park, Bekasi, Jawa Barat pada 4 Juli 2026 lalu, acara ini sukses mengajak sekitar 150 warga yang mayoritas ibu-ibu untuk melek literasi digital.
Chief Marketing Officer (CMO) PINTU, Timothius Martin, menyebutkan bahwa kolaborasi ini adalah bentuk tanggung jawab sosial untuk membentengi masyarakat di dunia maya.
“Kolaborasi ini merupakan bentuk komitmen serta tanggung jawab PINTU akan pentingnya literasi digital. Kami berharap program ini dapat menjadi inspirasi serta landasan supaya masyarakat makin cerdas digital, waspada terhadap ancaman siber, sekaligus bisa memanfaatkan teknologi untuk manfaat sebesar-besarnya,” ungkap Timothius.
Tingginya Risiko Penipuan Digital di Tengah Masyarakat
Ancaman penipuan digital memang tidak bisa dipandang sebelah mata, apalagi aktivitas kita saat ini sulit lepas dari gadget. Anggota DPRD Kota Bekasi, Ir. Hj. Chairun Nisa, M.M., yang turut hadir dalam acara tersebut membeberkan tingginya penetrasi internet di wilayahnya.
“Dari 2,8 juta penduduk Kota Bekasi, pengguna internetnya mencapai 2,2 juta orang. Hampir setiap orang saat ini menghabiskan waktunya berlama-lama di media sosial. Maka dari itu, penting sekali untuk melindungi diri kita semua dari praktik penipuan digital, dan kita wajib jadi bagian dari SDM yang cerdas digital,” kata Chairun Nisa.
Kerentanan ini makin diperparah oleh tingkat kelabilan masyarakat saat menerima informasi baru. Ketua Tim Pembinaan Komunikasi Publik Daerah Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Dimas Aditya Nugraha, membocorkan fakta yang cukup mengejutkan.
“Mayoritas orang Indonesia saat dapat informasi hoaks, kemampuan identifikasinya itu beragam. Sekitar 7% sangat yakin dengan informasi tersebut, 25% yakin, dan 45% masih bimbang antara yakin dan tidak. Jadi, ritual saring sebelum sharing itu wajib banget supaya kita terhindar dari praktik manipulasi informasi,” tegas Dimas.
Jurus Tangkal Hoaks
Lalu, bagaimana caranya supaya tidak mudah terpancing berita bohong atau tertipu tautan (link) bodong?
Dekan Fakultas Falsafah dan Peradaban Universitas Paramadina, Dr. Rini Sudarmanti, membagikan panduan praktis nan santai, khususnya bagi para ibu yang memegang peran sebagai ‘tiang edukasi’ keluarga.
“Ibu-ibu harus curiga kalau baca judul yang lebay, atau lihat foto dan video hasil rekayasa AI. Waspadai juga info dari 'sumber hantu' yang nggak jelas nama ahlinya, apalagi kalau narasinya bombastis dan memaksa disebarkan demi memicu kepanikan,” ujar Rini.
Ia pun membagikan formula verifikasi mandiri yang mudah diingat: Tarik napas, cek faktanya, cari dari sumber kredibel, lalu luruskan secara santun.
“Jika menemukannya, jangan menebak-nebak. Manfaatkan panduan resmi dari pemerintah untuk mengecek kebenarannya. Melalui kemudahan pengecekan digital saat ini, ibu-ibu memegang kendali utama untuk mengedukasi anak-anak dan suami demi membentengi keluarga dari info menyesatkan," tambahnya.
Jangan Anti-AI, Manfaatkan untuk Hal Positif
Senada dengan Rini, Senior Product Marketing Specialist PINTU, Reyner Jonathan, juga memberikan kiat tambahan agar kantong keluarga tidak jebol akibat penipuan finansial berbasis AI.
“Pertama, tanamkan sifat tidak mudah percaya. Kedua, jangan panik. Ketiga, selalu cek sumber dan nomor kontaknya. Kalau ada yang mengatasnamakan institusi tertentu, kroscek dulu apakah itu nomor resminya. Terakhir, jangan sembarangan klik link apa pun, apalagi tautan phishing," beber Reyner.
Meski AI sering disalahgunakan oknum tak bertanggung jawab, Reyner mengingatkan agar masyarakat tidak lantas phobia terhadap teknologi. Sejatinya, AI adalah alat yang sangat mempermudah urusan sehari-hari jika dimanfaatkan dengan benar.
“Buat ibu-ibu yang suka masak, AI bisa dimintai resep masakan. Kalau sedang cari barang dan ingin membandingkan (compare) produk, bisa juga pakai AI. Bahkan, buat yang jualan online, AI bisa dipakai untuk membuat caption media sosial sampai menghitung pembukuan. Intinya, AI itu alat yang harus dimanfaatkan untuk hal-hal positif,” jelasnya santai.
Pemanfaatan AI di Indonesia memang tercatat sangat tinggi. Laporan Global Workforce Hopes and Fears Survey 2025 dari PwC Indonesia mencatat, 69% pekerja kita sudah memakai AI untuk meningkatkan produktivitas dalam setahun terakhir.
Namun di sisi lain, data Komdigi juga menyoroti kerugian akibat scam atau penipuan digital di Indonesia yang nilainya fantastis, menembus angka Rp7,5 triliun.
Melihat dua sisi mata uang teknologi ini, edukasi berkesinambungan menjadi kunci. "Kami mengapresiasi Universitas Paramadina yang telah menggagas kegiatan ini. PINTU berkomitmen penuh mendukung literasi supaya masyarakat tidak hanya waspada kejahatan siber, tetapi juga cerdas memanfaatkan kemajuan teknologi untuk kehidupan yang lebih baik," pungkas Reyner. (Dok. PINTU)





