Puncak peringatan Hari Anak Nasional 2026 yang digelar Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) di Makara Art Center, Universitas Indonesia, Depok, Kamis (23/07) mendapat dukungan Asosiasi Perusahaan Produk Bernutrisi untuk Ibu dan Anak (APPNIA).
Sebagai mitra penyelenggara, APPNIA turut berpartisipasi aktif dalam puncak peringatan Hari Anak Nasional 2026 dengan berkolaborasi bersama Kemen PPPA menyediakan asupan makanan dan minuman ringan bernutrisi bagi anak-anak peserta acara. APPNIA juga memberikan penghargaan kepada dua anak peserta kegiatan pengibaran bendera Merah Putih dan spanduk Hari Anak Nasional melalui aksi rappelling sebagai bentuk apresiasi atas semangat, keberanian, dan partisipasi mereka dalam rangkaian Hari Anak Nasional 2026. Melalui dukungan tersebut, APPNIA menegaskan bahwa pemenuhan gizi merupakan fondasi yang tidak terpisahkan dari upaya mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
"Pemenuhan gizi pada setiap tahap usia merupakan fondasi tumbuh kembang anak. Namun fondasi tersebut hanya dapat terwujud apabila orang tua, khususnya ibu, memiliki akses terhadap edukasi gizi yang akurat dan berbasis ilmu pengetahuan," ujar Direktur Eksekutif APPNIA Poppy Kumala.
Menurut Poppy, tantangan saat ini bukan hanya akses terhadap pangan bergizi, tetapi juga maraknya informasi mengenai gizi anak yang belum tentu dapat dipertanggungjawabkan. "Saat ini banyak informasi beredar di media sosial dan kita tidak selalu bisa memastikan seberapa bertanggung jawab informasi tersebut," tambahnya.
Puncak peringatan Hari Anak Nasional 2026 mengusung tema "Sayang Anak, Lindungi, dan Bangun Masa Depan" dan dikemas dalam Festival Budaya Anak yang menempatkan anak sebagai pelaku utama. Melalui penyampaian Suara Anak Indonesia serta berbagai pertunjukan seni dan budaya, kegiatan ini menjadi ruang bagi anak-anak untuk mengekspresikan kreativitas sekaligus menyampaikan aspirasi mereka.
Sejalan dengan aspirasi tersebut, Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Veronica Tan menegaskan bahwa pemenuhan hak anak merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Menurutnya, komitmen tersebut juga sejalan dengan Asta Cita keempat Presiden yang menitikberatkan pada penguatan pembangunan sumber daya manusia melalui pendidikan, kesehatan, kesetaraan gender, serta penguatan peran perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas.
"Kita tidak bisa berjalan sendiri-sendiri karena hak anak harus dipenuhi semua pihak. Kolaborasi menjadi kunci," ujar Veronica. Ia menambahkan bahwa perubahan tidak dapat diwujudkan dalam waktu singkat, namun akan memberikan dampak nyata ketika seluruh pihak yang memiliki komitmen dapat bekerja bersama. (Foto: Dok. APPNIA)





