Menyambut Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, semangat keberagaman dan kecintaan terhadap budaya Nusantara dirayakan Batik Riana Kesuma melalui acara Fashion Show & Talkshow “Terjalin: Benang Merah Putih untuk Indonesia”, dengan tema talkshow “Menjalin Keberagaman dengan Semangat Kemerdekaan”.
Digelar pada 12 Agustus 2026 di Alun Alun Indonesia, Grand Indonesia, Jakarta, acara ini mempertemukan perempuan dari berbagai latar belakang budaya dan suku yang berbeda. Dengan beragam profesi seperti pelaku UMKM, perempuan eksekutif, penggiat seni dan budaya, komunitas, generasi muda, serta para pencinta wastra Indonesia.
Batik bukan sekadar kain. Di tangan para perempuan kreatif, batik dapat menjadi ruang untuk bertemu, membangun persahabatan, mempertemukan budaya, hingga melahirkan gerakan kemanusiaan. Hadir sebagai narasumber KRA Aylawati Sarwono, Direktur Utama MURI sekaligus penggiat seni dan budaya, bersama Riana Kusuma Astuti, Founder Batik Riana Kesuma dan penggiat batik serta budaya.

Riana Kusuma: 30 Tahun Menjaga Batik Tetap Menyala
Sebagai pegiat batik Riana Kusuma Astuti menjadi salah satu sosok yang konsisten menghidupkan batik dan wastra Indonesia. Bisnis batiknya berdiri sejak 1997 di Solo dan kemudian berkembang dari usaha kain batik menjadi ready-to-wear dan berbagai koleksi batik, kebaya, busana pria, hingga custom uniform.
Dalam perjalanan panjangnya, ia tidak hanya melihat batik sebagai bisnis, tetapi sebagai bagian dari tanggung jawab untuk menjaga warisan budaya. Ia berkata, “Hingga saat ini saya tetap bersemangat terus berinovasi dan konsisten mengeluarkan berbagai koleksi baru. Apalagi, anak-anak muda sekarang terlihat begitu bergelora mau memakai dan mempromosikan wastra nusantara. Batik tidak lagi terkesan sebagai pakaian yang hanya digunakan untuk acara formal atau kondangan.”
Riana pun merasa bersyukur putranya M Rio Rahmana tertarik terjun meneruskan bisnis batiknya dan menjadi Chief Executive Officer Batik Riana Kesuma. Rio yang sempat menempuh pendidikan di Amerika Serikat, akhirnya kembali ke Indonesia dan menjadi simbol bahwa generasi muda dapat belajar sejauh mungkin, namun tetap kembali membawa pengalaman tersebut untuk memperkuat akar budaya Indonesia.
“Generasi muda memiliki peran penting sebagai penjaga warisan budaya dan saya bangga melihat batik telah menjadi bagian lifestyle kaum muda sekarang ini di Indonesia. Saya berharap apresiasi terhadap batik semakin mendalam, termasuk ke karya batik tulis yang membutuhkan proses panjang dan keterampilan tangan. Anak-anak muda dapat mengeksplorasi memadupadankan kain dengan busana modern, aksesori, dan terus memperkenalkan wastra batik melalui media sosial,” papar Rio.
Riana juga mengungkapkan bahwa setiap kain batik memilik peran berbagai sosok di belakangnya. Ada pengrajin yang membuatnya, keterampilan yang diwariskan, dan waktu yang dicurahkan. Karena itu, ketika seseorang membeli dan mengenakan wastra, ia sebenarnya turut menjaga keberlangsungan ekonomi para pengrajin. “Bahkan, setiap karya dibuat dengan doa, agar orang yang mengenakannya selalu sehat, panjang umur, dan mendapatkan berkah. Dengan demikian, transaksi ekonomi pun berubah menjadi hubungan yang lebih bermakna antara pembuat dan pemakainya,” ungkap Riana seraya tersenyum.
Aylawati Sarwono: Budaya Indonesia Tak Ada Tandingannya
Sementara itu, KRA Aylawati Sarwono, Direktur Utama MURI dan penggiat seni dan budaya, mengajak para perempuan untuk bisa melihat kekayaan Indonesia dari perspektif lebih luas.
Menurutnya, setelah perjalanan ke berbagai negara justru membuatnya semakin mengagumi Indonesia. “Saya beruntung bisa berkeliling ke berbagai negara dengan suami saya, Pak Jaya Suprana. Uniknya, setelah melanglang buana kami malah terkagum-kagum sama negara kita sendiri. Saya melihat Indonesia sebagai negara dengan mega diversity of culture. Keragaman tersebut mencakup suku bangsa, bahasa, busana, seni, budaya, hingga kuliner. Budaya Indonesia itu sebenanrnya tidak ada tandingnya,” tegasnya.

Bagi Aylawati, semakin seseorang mengenal budaya Indonesia, justru semakin besar pula rasa bangga dan kecintaannya terhadap Tanah Air. Kecintaannya terhadap budaya juga tercermin melalui perjalanan panjang bersama Jaya Suprana dalam mengembangkan MURI.
Dalam paparannya, ia menyebut bahwa MURI telah berdiri sejak 1990 dan selama sekitar 36 tahun telah mencatat sekitar 12.800 prestasi superlatif, dengan sekitar 85 persen di antaranya berkaitan dengan seni dan budaya dari berbagai daerah Indonesia. Bagi Aylawati, setiap pencapaian tersebut merupakan bagian dari cerita besar tentang kreativitas masyarakat Indonesia.
Dari Tari hingga Wayang Orang
Aylawati sendiri bukanlah sosok yang hanya berkecimpung dalam dunia pencatatan rekor, tetapi juga memiliki perjalanan panjang sebagai pelaku seni. Ia mengaku lebih nyaman menari daripada berbicara. Baginya, menari adalah salah satu cara untuk mengisi kemerdekaan dengan talenta yang dimiliki.
“Jadi saya itu mengisi kemerdekaan ini dengan talenta yang saya punya, yaitu menari dan mengangkat budaya tradisional, kemudian menyelenggarakan pertunjukan-pertunjukan tradisional. Perjalanan seni ini mencakup berbagai pertunjukan musik, tari, wayang orang, drama musikal, hingga karya kontemporer di dalam dan luar negeri,” ungkapnya.
Ia terlibat dalam berbagai kegiatan seperti Festival Bedhayan dan mendedikasikan dirinya untuk memopulerkan seni tari klasik Jawa ini, agar lebih dikenal luas oleh masyarakat umum dan generasi muda. Selain itu, Aylawati juga memiliki keyakinan kuat bahwa wayang orang merupakan kekayaan seni yang luar biasa.
“Kalau saya membuat pertunjukkan wayang orang, itu tak kalah bagus dengan balet atau opera. Menurut saya, wayang orang memiliki semua unsur seperti musik, cerita, tari, nyanyian, properti, drama, bahkan romantisme. Karena itu, tantangannya, bukan apakah wayang orang masih menarik untuk ditonton? Tetapi, bagaimana menghadirkannya dalam kemasan yang dapat diterima generasi masa kini. Di sinilah teknologi dan inovasi dapat memainkan peran,” paparnya dengan nada bersemangat.
Riana pun memiliki pandangan serupa mengenai hubungan tradisi dan modernitas dan tidak melihat keduanya sebagai dua hal yang bertentangan. “Saya tidak pernah merasa kehidupan di bidang seni tradisional maupun kehidupan sehari-hari sebagai seorang pengusaha maupun pelaku bisnis yang harus cepat dan sigap di dunia modern itu saling berlawanan. Menurut saya pengalaman dari dunia tradisional justru dapat diterapkan dalam kehidupan modern, begitu pula sebaliknya dan saling mendukung. Contohnya, pertunjukan wayang orang yang dikemas modern seperti broadway, menggunakan peralatan modern dari sisi multimedia, lighting, dan tata suara.
Merah Putih dan Cinta Tanah Air
Batik Riana Kusuma pun memperkenalkan koleksi terbarunya ditujukan bagi perempuan Indonesia dalam fashion show menyambut HUT ke-81 Republik Indonesia dan pemerintah telah menetapkan tema resmi "Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur". Koleksi terbaru ini bisa dikenakan untuk berbagai kesempatan dan Riana berharap perempuan Indonesia dapat membawa wastra batik ke mana pun mereka pergi, termasuk ketika melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri.
Semangat kebangsaan kembali ditegaskan melalui koleksi indah Batik Riana Kusuma bernuansa warna merah putih yang menjadi simbol kecintaan terhadap Tanah Air. Pada akhirnya, “Terjalin: Benang Merah Putih untuk Indonesia” bukan hanya tentang fashion show, batik, tari, wayang, atau kain tradisional, bagaimana keberagaman dirangkai menjadi kebersamaan dan saling terjalin.
Budaya tidak akan hidup hanya karena disimpan sebagai warisan, namun akan terus menyala ketika dipakai, dipahami, dikreasikan, dipromosikan, diwariskan, dan dicintai. Ketika merah putih terus menjadi benang yang mengikat keberagaman itu, maka wastra, seni, dan budaya bukan hanya kebanggaan masa lalu, namun menjadi bagian dari masa depan Indonesia. (ES | Foto: Dok. Istimewa)





