Kembang Goeyang Hadirkan Comfort Food dan Lestarikan Kuliner Indonesia Peranakan

Babak baru dalam perjalanan kuliner keluarga Admodirdjo hadir di pusat Jakarta. Setelah dikenal melalui Meradelima dan Kembang Goela, kini Kembang Goeyang hadir di Sarinah dengan konsep Peranakan Delight yang menyajikan comfort food Indonesia Peranakan dalam suasana yang lebih kasual dan fleksibel.

 

Berlokasi di lantai GF Sarinah, Kembang Goeyang menawarkan hidangan yang dapat dinikmati sepanjang hari, mulai dari sarapan, makan siang, hingga makan malam. Berbeda dari Meradelima yang dikenal dengan sajian Chinese Peranakan untuk dinikmati bersama, Kembang Goeyang menghadirkan menu yang lebih praktis untuk berbagai kesempatan bersantap.

 

Sajian Peranakan yang Lebih Santai

Konsep Kembang Goeyang berangkat dari cita rasa dan pengalaman yang telah dibangun melalui Meradelima dan Kembang Goela, kemudian diterjemahkan ke dalam suasana yang lebih kasual dan sesuai dengan cara makan masa kini.

 

Nama Kembang Goeyang sendiri terinspirasi dari kudapan tradisional yang telah dikenal lintas generasi. Nama ini mencerminkan semangat restoran untuk menghadirkan kembali cita rasa yang familiar dengan cara yang tetap relevan bagi generasi sekarang.

 

 

“Kalau di Meradelima gaya makannya lebih untuk makan bersama karena porsinya besar dan family oriented. Di Kembang Goeyang, kita bisa menikmati hidangan per porsi sehingga lebih fleksibel untuk berbagai momen,” ujar Faizal Admodirdjo, Chairman of the Board.

 

Pilihan menu Kembang Goeyang disusun untuk berbagai waktu bersantap, dengan beragam kategori seperti Tjemil-Tjemilan, Roti-Rotian, Kuah-Kuahan, Nasi-Nasian, Ulek-Ulekan, hingga Hidangan Penoetoep. Salah satu menu yang menjadi andalan adalah roti bakar, dibuat dengan gaya rumahan menggunakan bahan-bahan berkualitas dan tersedia dalam berbagai pilihan rasa. Pilihan minuman turut melengkapi pengalaman bersantap, mulai dari kopi khas Kembang Goeyang dan teh tarik hingga minuman favorit seperti matcha dan es kopi susu gula aren.

 

Meneruskan Perjalanan Kuliner Keluarga Admodirdjo

Kembang Goeyang merupakan babak terbaru dalam perjalanan kuliner Lily Admodirdjo, yang selama puluhan tahun telah menghadirkan beragam restoran dan konsep kuliner, termasuk Waroeng Kita, Meradelima, Kembang Goela, Bunga Rampai, Suasana, Kiosk 5, Serasi, Seia, Snupen, dan Palalada.

 

Melalui berbagai konsep tersebut, Lily terus mengangkat kekayaan kuliner Indonesia, dengan latar budaya Indonesia, Tionghoa, dan Belanda yang turut membentuk karakter kulinernya dalam menghadirkan beragam pengalaman bersantap.

 

 

Kini, perjalanan tersebut dilanjutkan oleh generasi kedua, Faizal Admodirdjo sebagai Chairman of the Board dan Carmelita Febiola M. Admodirdjo sebagai Chief Executive Officer. Melalui Kembang Goeyang, keduanya membawa pengalaman dan nilai-nilai kuliner keluarga ke dalam konsep yang lebih kasual, tanpa meninggalkan karakter rasa yang telah menjadi bagian dari perjalanan tersebut.

 

Semangat regenerasi itulah yang kemudian menjadi salah satu fondasi lahirnya Kembang Goyang, sebuah restoran dengan pendekatan yang lebih kasual terhadap makanan Peranakan dan jajanan pasar Indonesia. Bagi Lili, perjalanan kuliner bukan hanya tentang membuka restoran baru. Ada tanggung jawab untuk memastikan makanan yang menjadi bagian dari identitas dan memori sebuah generasi tidak hilang ketika generasi tersebut berganti.

 

“Gaya dan penyajiannya memang kami buat berbeda. Kami juga ingin menciptakan tempat yang dapat diterima berbagai generasi, tidak terlalu mengikuti tren sesaat, tetapi tetap terasa tepat untuk saat ini,” ujar Carmelita Febiola M. Admodirdjo, Chief Executive Officer.

 

Menurut Carmelita generasi baru memang membutuhkan pendekatan yang berbeda untuk kembali tertarik pada makanan tradisional. Ia melihat fenomena sederhana di sekelilingnya. Ia berkata, “Ketika ditanya makanan apa yang diinginkan anak-anak sekarang, jawabannya bisa saja cheesecake atau dessert modern lainnya. Padahal, Indonesia memiliki begitu banyak jajanan pasar yang tidak kalah enak dan menarik. Jajanan pasar ini juga kalah enaknya dan juga kalah representable-nya. Jadi, tujuannya sederhana tetapi penting, yaitu membuat generasi sekarang mengenal makanan yang pernah menjadi bagian dari kehidupan orang tua dan kakek-nenek mereka dan tidak hilang tetap bisa lestari.” (ES | Foto: Dok. Kembang Goeyang)