William Susilo Yunior: Berinvestasi Seharga Secangkir Kopi

Keterbatasan lahan, pengaruh inflasi terhadap harga bahan bangunan dan konstruksi, hanyalah beberapa masalah yang dihadapi dunia properti di Tanah Air. Padahal kebutuhan akan hunian yang kini sudah menjadi kebutuhan primer kian meningkat sehingga harganya ikut melambung. Sementara pendapatan tidak mengalami kenaikan. Lalu bagaimana solusinya?

Permasalahan inilah yang mendorong William Susilo Yunior bersama dengan rekannya Angela Oetama mendirikan Gradana. Sebuah usaha fintech rintisan yang bergerak di bidang properti. Melihat perkembangan sharing economy berbasis teknologi dewasa ini telah berhasil menjadi solusi bagi masalah yang dihadapi oleh masyarakat.

“Beda Gradana dengan peer to peer lending lainnya adalah peruntukan peminjamannya. Kami dedikasikan setiap portofolio pinjaman ke properti,” ujar pria yang pernah menduduki posisi strategic planning lead di Sinarmas Land di usia 25 tahun ini.

Tawarkan Solusi Properti Bagi Millenial

Berdiri sejak 2017, Gradana tidak langsung menuai kesuksesan. Kesulitan untuk meyakinkan pemberi pinjaman (lender) maupun memverifikasi peminjam (borrower) tentu ada. Namun, berbekal pengalaman di bisnis sebelumnya, tidak menjadi masalah yang besar. Pertama kali fokus Gradana memang pada pembiayaan uang muka untuk pembelian properti baru. Melihat perkembangan di pasar, William melihat adanya peluang untuk bermain pula di lahan pembelian rumah tangan kedua (secondary market). Ternyata pembiayaan rumah tangan kedua peminatnya juga tidak kalah banyak dengan rumah baru sehingga diluncurkanlah fitur GraStrata.

Gradana akan memberikan pembiayaan sesuai nilai pengajuan apabila memenuhi verifikasi credit scoring dan penialaian termasuk komponen uang muka  bagi calon pembeli rumah bekas yang bisa dicicil serta bebas penalti apabila suatu hari Pembeli mau mengalihkan pembiayaannya ke Bank.

“Selama ini kami hanya berforkus pada pembiayaan uang muka untuk unit baru dari rekanan pengembang kami, yaitu melalui produk GraDP. Namun dengan adanya GraStrata, pembeli pun bisa memanfaatkan fitur untuk pembelian rumah second sesuai pilihan mereka sendiri di wilayah Jabodetabek, Bandung, Medan dan Palembang,” ungkapnya.

Gradana juga menawarkan solusi bagi kaum milenial yang belum mampu membeli rumah dengan GraSewa. Dengan memberikan talangan sewa tahunan kepada pemilik properti, calon penyewa bisa membayar secara bulanan kepada Gradana. Mereka pun dapat memilih properti mana saja yang berlokasi di kota-kota besar dengan kebutuhan hunian dan komersial cukup tinggi.

Menurut William, kebutuhan dana untuk properti tidak melulu hanya pembelian dan penyewaan, tetapi juga renovasi. Banyak pemilik properti yang ingin meningkatkan nilai jual asetnya dengan renovasi. “Konsumen sering mengeluhkan bahwa biaya renovasi atau fitting out tidak murah. Karena itulah kami juga memiliki layanan GraRenov khusus untuk mereka yang sedang mencari pembiayaan untuk renovasi,” ujar pria yang memulai bisnisnya dari rintisan di bidang makanan sehat.

Investasi Secangkir Kopi

William mengatakan bahwa Gradana bukan hanya terbuka bagi investor bermodal besar, tetapi juga bagi kaum milenial dengan penghasilan yang belum terlalu besar. Berbagai macam investasi tersedia, bahkan dari tingkat dengan harga secangkir kopi. “Dengan menjadi lender, kita mendapat banyak benefit, misalnya sebagai investasi untuk memiliki rumah sendiri. Bagi borrower pun ada keuntungannya, jika tidak ada kendala selama masa peminjaman, Gradana dapat memberikan rekomendasi kepada bank sehingga proses kepemilikan rumah auto-approval,” ujarnya dengan bersemangat.

Ini dikarenakan Gradana telah bekerja sama dengan beberapa bank, seperti BTN dan lebih dari 10.000 developer partner. “Mulai dari boutique developer yang skala project-nya mungkin lima sampai lima puluh unit cluster, sampai properti developer yang lebih besar,” tutupnya mengakhiri sesi wawancara dengan Women’s Obsession. (Nur A | Foto: Edwin B)